Cool Transparent Purple Pointer

Welcome to my blog ....... ( )
If you follow me, I'll follow back
forbidden to copy paste in my blog!
I hope you liked my post, and if already read, please comment .......
Greetings from the creator of this blog, that is ....
'Sanaura Rafif Elantares'
* PEACE * ^.^ V

silahkan pilih....

Sabtu, 07 April 2012

Senyum Terakhir

Malam itu, Nathan sepulang dari les matematika, ia tidak sengaja bertatapan muka dengan seseorang yang pernah sangat ia cintai. Ketika itu ia hanya dapat tersenyum saja, begitu pula sebaliknya. Sesampai di rumah segera ia masuk kamar, lalu ia menulis di selembar kertas sebuah puisi tentang rasa jiwannya.

“SESAL”

Aku masih, menyimpan satu
Rasa yang belum bisa hilang
Aku pergi dari genggamnya
Aku sesal dengan segala
Yang membuatku terbelunggu hati
Malam ini menjadi saksi
Air mataku jatuh sebab hati
Sesal......

-Untuk aku yang galau ini.

 “Nath, ada temanmu….” suara ibunya dari ruang tamu. Nathan yang masih di kamar itu keluar dengan malasnya. ''Echa?'' Tanya Nathan yang lumayan kaget. Ibunya menjawab, “Ya, nak, dia Echa teman SMP-mu dulu, dia kesini katanya kangen sama ibu, sambil kepengen belajar sama kamu”. Echa dan ibunya Nathan memang sudah dari dulu dekat, semenjak Nathan mengajak Echa kerumahnya, namun kini semua berubah di saat mereka berlainan sekolah. Nathan memilih SMA, sedangkan Echa sendiri di SMK. “Ngobrol-ngobrol aja dulu! Ini ibu buatkan sirup” kata ibu Nathan. Di ruang tamu yang kecil itu, mereka tak mengucapkan satu kata pun, kecuali saling balas senyum saat bertatapan pandang saja. Tiba-tiba ibunya Nathan mengejutkan lamunan mereka.

“Kok gak seperti biasanya? Biasanyakan setiap bertemu saling berantem entah masalah inilah itulah. Loh, sekarang kok diam-diaman? Ada masalah ya? Ceritakan sama ibu dong!”. Tanpa di sadari oleh Nathan, Echa pun langsung bercerita, “Begini te, sekarang Nathan gak pernah mau menyapa Echa lagi. Penyebabnya dia sudah punya pacar di SMA-nya, makanya dia sering ngejauhin saya, te”. Katanya begitu polos, tanpa ada yang di buat-buat. Nathan pun mengiyakan jika ia sering menjauhi Echa karena Milly, pacar pertamanya. Nathan dan Echa sebenarnya pasangan yang cocok bagi teman-temannya, sudah dari dulu mereka sering di olok-olok pacaran, tapi semua itu hanyalah harapan yang dapat tertanam dalam hati.   

Besoknya………….
 “Ada apa, beb? Kok, pagi-pagi ngajak ketemuan” kata Milly manja, ya itulah yang paling di benci Nathan jika Milly manja seperti itu. Dengan ragu-ragu, Nathan berkata, “Maaf sebelumnya, Milly, karena ini bersangkutan nilai ulanganku yang tambah turun, maka dengan hati…….” sejenak ia menarik nafas panjang, lalu melanjutkanya, “Aku ingin kita putus!” suaranya lembut. Dengan air mata Milly hanya bisa tersenyum paksa. “Ya, loe mungkin akan lebih seneng sama Echa, dia kan pinter”. Milly langsung lari ke toilet cewek, sambil mengusap kaca-kaca yang melukai hatinya. Berat sekali untuk meninggalkan seorang yang sangat ia cintai. Namun itulah yang harus Milly terima.

Malamnya, Nathan sudah mempersiapkan beberapa obrolan untuknya dan sahabat yang pernah ia cintai. Hari itu, Nathan berulang tahun. Sudah jam tujuh, tapi tetap saja Echa gak datang ke acara ultah Nathan yang sederhana itu, lalu ia mengirim SMS ke Echa, tetap saja tidak dibalas. Dengan rasa cemas ia pun pamit pada ibunya, ke rumah Echa. Sampai disana, ia tidak bisa membendung air mata haru. “Kenapa gak ngajak ibumu?” tanya Echa, di depan kue tart. Sebenarnya Echa pingin ngasih kue buatanya sendiri untuk Nathan. Tapi saat itu Echa gak bisa beranjak dari kamar tidur karena dia sakit panas. “selamat ulang tahun ya Nathan, maaf aku gak bisa datang ke acara ulang tahunmu. Ini kue buat kamu…..” ucap Echa dengan lembut.

 “Cha, aku pengen ngomong sesuatu, kalau aku ......” belum selasai ia bicara, sudah di potong oleh Echa, “Aku terima, kok” senyumnya. “Cha ini hadiah terindah buat aku…..” kata Nathan sambil memberikan senyum terindahnya. “makasih Nath…..” kata Echa sangat pelan. Mereka berdua berjanji tidak akan slalu bersama dan menjaga satu sama lain. Tapi takdir berkata lain, tubuh Echa makin panas dan jantungnya melemah. Malam itu juga, Echa memberikan senyum pada Nathan untuk terakhirkalinya. Nathan menggenggam erat tangan Echa yang dingin. Nathan tak percaya dengan apa yang dialaminya. Orang yang di cintainya kini telah pergi. Air mata mengalir deras di pipinya.

Pada purnama aku berkata
Aku temukan seseorang
Aku ingin selamanya
Dengannya
Agar segala tetap bahagia
Tapi…..
Orang yang kucinta telah pergi
Memberikan senyum yang terakhir
Untuku……

Tidak ada komentar:

Posting Komentar