“SESAL”
Aku masih, menyimpan satu
Rasa yang belum bisa hilang
Aku pergi dari genggamnya
Aku sesal dengan segala
Yang membuatku terbelunggu hati
Malam ini menjadi saksi
Air mataku jatuh sebab hati
Sesal......
-Untuk aku yang galau ini.
“Nath,
ada temanmu….” suara ibunya dari ruang tamu. Nathan yang masih di kamar
itu keluar dengan malasnya. ''Echa?'' Tanya Nathan yang lumayan kaget.
Ibunya menjawab, “Ya, nak, dia Echa teman SMP-mu dulu, dia kesini
katanya kangen sama ibu, sambil kepengen belajar sama kamu”. Echa dan
ibunya Nathan memang sudah dari dulu dekat, semenjak Nathan mengajak
Echa kerumahnya, namun kini semua berubah di saat mereka berlainan
sekolah. Nathan memilih SMA, sedangkan Echa sendiri di SMK.
“Ngobrol-ngobrol aja dulu! Ini ibu buatkan sirup” kata ibu Nathan. Di
ruang tamu yang kecil itu, mereka tak mengucapkan satu kata pun, kecuali
saling balas senyum saat bertatapan pandang saja. Tiba-tiba ibunya
Nathan mengejutkan lamunan mereka.
“Kok
gak seperti biasanya? Biasanyakan setiap bertemu saling berantem entah
masalah inilah itulah. Loh, sekarang kok diam-diaman? Ada masalah ya?
Ceritakan sama ibu dong!”. Tanpa di sadari oleh Nathan, Echa pun
langsung bercerita, “Begini te, sekarang Nathan gak pernah mau menyapa
Echa lagi. Penyebabnya dia sudah punya pacar di SMA-nya, makanya dia
sering ngejauhin saya, te”. Katanya begitu polos, tanpa ada yang di
buat-buat. Nathan pun mengiyakan jika ia sering menjauhi Echa karena
Milly, pacar pertamanya. Nathan dan Echa sebenarnya pasangan yang cocok
bagi teman-temannya, sudah dari dulu mereka sering di olok-olok pacaran,
tapi semua itu hanyalah harapan yang dapat tertanam dalam hati.
Besoknya………….
“Ada
apa, beb? Kok, pagi-pagi ngajak ketemuan” kata Milly manja, ya itulah
yang paling di benci Nathan jika Milly manja seperti itu. Dengan
ragu-ragu, Nathan berkata, “Maaf sebelumnya, Milly, karena ini
bersangkutan nilai ulanganku yang tambah turun, maka dengan hati…….”
sejenak ia menarik nafas panjang, lalu melanjutkanya, “Aku ingin kita
putus!” suaranya lembut. Dengan air mata Milly hanya bisa tersenyum
paksa. “Ya, loe mungkin akan lebih seneng sama Echa, dia kan pinter”.
Milly langsung lari ke toilet cewek, sambil mengusap kaca-kaca yang
melukai hatinya. Berat sekali untuk meninggalkan seorang yang sangat ia
cintai. Namun itulah yang harus Milly terima.
Malamnya,
Nathan sudah mempersiapkan beberapa obrolan untuknya dan sahabat yang
pernah ia cintai. Hari itu, Nathan berulang tahun. Sudah jam tujuh, tapi
tetap saja Echa gak datang ke acara ultah Nathan yang sederhana itu,
lalu ia mengirim SMS ke Echa, tetap saja tidak dibalas. Dengan rasa
cemas ia pun pamit pada ibunya, ke rumah Echa. Sampai disana, ia tidak
bisa membendung air mata haru. “Kenapa gak ngajak ibumu?” tanya Echa, di
depan kue tart. Sebenarnya Echa pingin ngasih kue buatanya sendiri
untuk Nathan. Tapi saat itu Echa gak bisa beranjak dari kamar tidur
karena dia sakit panas. “selamat ulang tahun ya Nathan, maaf aku gak
bisa datang ke acara ulang tahunmu. Ini kue buat kamu…..” ucap Echa
dengan lembut.
“Cha, aku pengen
ngomong sesuatu, kalau aku ......” belum selasai ia bicara, sudah di
potong oleh Echa, “Aku terima, kok” senyumnya. “Cha ini hadiah terindah
buat aku…..” kata Nathan sambil memberikan senyum terindahnya. “makasih
Nath…..” kata Echa sangat pelan. Mereka berdua berjanji tidak akan slalu
bersama dan menjaga satu sama lain. Tapi takdir berkata lain, tubuh
Echa makin panas dan jantungnya melemah. Malam itu juga, Echa memberikan
senyum pada Nathan untuk terakhirkalinya. Nathan menggenggam erat
tangan Echa yang dingin. Nathan tak percaya dengan apa yang dialaminya.
Orang yang di cintainya kini telah pergi. Air mata mengalir deras di
pipinya.
Pada purnama aku berkata
Aku temukan seseorang
Aku ingin selamanya
Dengannya
Agar segala tetap bahagia
Tapi…..
Orang yang kucinta telah pergi
Memberikan senyum yang terakhir
Untuku……
Tidak ada komentar:
Posting Komentar