Malam yang sesuatu……..
aku udah lupa kapan itu terjadi. Aduh, kapan ya? Kira-kira pas aku kelas 5 SD.
Merinding jika aku
mengingat tragedi serem itu…. . Entah mimpi….. ilusi….. bayangan….. khayalan…..
ato NYATAAA……. . Mama sama papa gak percaya tentang ini…… Dan mungkin kamu juga
gak percaya (buat yang baca ini). Tapi… berhati-hatilah mungkin kamu juga akan
mengalaminya ato kamu sudah mengalaminya sebelum aku.
Waktu itu…………………..
Di sebuah kamar imut
bercat warna-warni, aku santai-santaian melihat kipas angin yang terus
berputar *BORING BANGETTT* . Lama-kelamaan aku ketiduran…….. Trus tiba-tiba
aku terbangun. Kulihat jam winny the pooh khas anak balita yang ada di kamarku
menunjukan waktu tengah malam (tapi udah lama ganti jam laen). Mata yang udah
gak ngantuk tebuka lebar-lebar.
Terlihat dari jendela,
seorang wanita sedang berdiri sambil memandangiku. Rasanya badanku langsung
beku dan tak bisa bergerak. DEGH.DEGH.DEGH. detak jantungku berdetak smakin
cepat. Mataku yang tak bisa berkedip melihat………… sosok yang bermata sipit,
betubuh tinggi, dagu nyatis, rambut hitam panjang tak berponi, kulit pucat dan
benar-benar pucat. Mulutnya yang setengah senyum dengan mengerikan membuat aku
jadi merinding. Badanku kaku dan yang kuarsakan adalah suasana angker dan
dinginya malam yang menusuk kulitku. Saking takutnya… aku tak sanggup teriak
padahal dalam hatiku, aku pengen banget teriak. “1…2…3…. Teriak!” suara hatiku.
Duch beneran aku pengen teriak tapi aku bener-bener kayak patung. Suara hatiku
tak pernah berhenti “1…2…3…. Teriak!” “1…2…3…. Teriak!” “1…2…3…. Teriak!”
“haduh res, kamu harus teriak!” “tapi aku gak sanggup” kataku dalam hati “oke
res, kalo kamu gak teriak, dia bisa ganggu kamu!” “cepet teriak!” “1…2…3….
Teriak!” “teriaklah, nanti orang tuamu pasti akan datang ke sini kalo denger
teriakanmu!” “ayo res kamu harus sanggup!” “res, res ayo!!” “1…2…3…. Teriak!”
suara-suara itu menggema di telingaku tapi kenapa tidak bisa keluar…? Kenapa
aku membisu…? “1…2…3…. Teriak!” “kalo kamu gini terus, kamu bisa GILA…..” “ini
bukan salahku….. ini salah suasana ini…… ini salah si hantu itu yang ngeliatin
aku….. bukan aku yang buat aku gila…. !” “aaa….. aku gak gila…. Aku Cuma
TAKUT…….!!!” “kenapa ada suara-suara menyeramkan?” “aku kenapa?” “sadar res!
Sadar!” “aku dimana? Aku diamana?” “kamu siapa?” “ini suara siapa?” “aku itu
kamu dan kamu itu aku…..” “AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAACH…………
AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAACH……………………………!!!!!!!!!!!!” “jangan hanya teriak dalam
hati! Ayo keluarkan suaramu! Kalo bisa buat hantu itu takut dengan teriakanmu!
Ayo res! Kamu pasti bisa!” “tapi aku gak bisa! Ini Cuma buang-buang waktu!”
“tidak res kamu pasti bisa!” “ini sia-sia! Aku tak akan sanggup!” “tidak res
kamu pasti bisa!” “PERCUMA!!” “YA ALLAH BANTU AKU…..!!!” “aku bisa aku yakin!”
“1…2…3…. Teriak!” “ternyata aku tak bisa!” “aku sudah mencoba!” rintihku dalam
hati “coba lagi!!!” “baiklah aku akan coba” “kali ini aku pasti bisa!” aku
yakin.
“AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAACCHHHH………..
AAAAAAAAAAAAAAAAAAAOOOOOOOO……………….. MAAAAAAAA PAAAAAAAA DEEEEEEEK
TOOOLOOOOONGGG………. AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAACCCCCHHHHHHHHHH………..!!!!!!!!!!! AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAACCCHHHHHH…..
AAAAAAAAAAAAACCHHHHH…………...!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!” Akhirnya aku mampu teriak
sekencang-kencangnya! Alhamdulillah aku telah sanggup untuk teriak! Tapi
badanku masih kaku. Cuma mulutku yang udah bisa gerak. Eh pas aku teriak itu,
hantunya malah melotot dengan wajah marah. Untungnya terdengar suara berisik di
bawah, kelihatanya mama dan papa denger teriakanku. Mereka buru-buru keatas.
Aku langsung tau karena terdengar hentakan kaki yang keras dari tangga. Hantu
tadi tiba-tiba hilang seperti kabut.
Mama langsung buka
pintu kamar aku. Papa dan mama terlihat sangat serius. “Mana? Mana?” Tanya
papa. “U Udah pergi pa….” jawabku masih deg.deg.an. Papa terlihat siaga membawa
tongkat kayu yang besar (dapet dari mana ya?). “kamu gak apa apa kan sayang?
Apa ada barang yang di ambil?” Tanya mama terlihat sangat cemas sambil
memeluku. “kita harus lapor polisi!” sahut papa. “gak usah pa! percuma gak
bakalan bisa ketangkep!” kataku. “sekarang polisi di indonesia udah pake
alat-alat yang canggih dan sangat teliti dalam mencari pelaku ato MALING!” kata
papa dengan sangat lugas. “WHAT? Ga ada maling….!!” Jawabku. Mama dan papa
terlihat kaget , begitu juga aku yang kaget pas papa bilang maling (kalian
kaget gak? Kaget kenapa?). “tadi itu aku teriak soalnya ada hantu….” Aku
berusaha menjelaskan tapi mama dan papa terlihat tak percaya. “resa… setan itu
gak bisa ganggu manusia! Setan yang bahasa arabnya Syaiton cuma menggoda
manusia agar berbuat jahat. Mangkanya jangan sering liat tipi yang
seten-setan!” kata papa “wis bubuk lagi, tak pikir apa!?!” sahut mama. “haduch
ma… pa… beneran aku gak bohong!” jawabku agak kesal “itu mungkin cuma mimpi ato
khayalanmu aja!” kata mama “trus kalo mau bubuk baca doa dulu!” tambah mama.
Huch kenapa sich orang semacam mama dan papa gak percaya ama omonganku? Mama
nyuruh aku tidur lagi tapi aku tetep gak mau. Takutnya, hantunya dateng lagi.
Trus aku gak mau tidur
di situ lagi! Akhirnya aku tukeran kamar sama adek. Adek yang sebelumnya gak
mau lepas dengan kamarnya, kini dia bisa nyerahin kamarnya karena mama beliin
adek boneka Barbie dan baju (kalo aku jadi tera, mungkin aku bakal minta lebih
banyak).
Hari-haripun
berlalu….. aku sama tera dah tukeran kamar. Waktu itu aku sakit demam. Mama
slalu nyuruh aku pake slimut tapi aku gak suka, eh mama maksa. Katanya demi
kebaikanku. Tapi sejujurnya aku gak suka banget dimanjain. Malemnya pas tidur
aku pake slimut. Tengah malem, aku bangun karna risih sama slimut ini. Panas
rasanya. “ih, gak usah pake slimut!” aku ngomong-ngomong sendiri. Tiba-tiba ada
yang njawab omonganku “hayo…! Pake slimut! Nanti sakit!” terdengar suara dari pintu.
Ternyata diatasnya pintu itu ada kayak monyet besar, mukanya serem banget. Tapi
masa sih hantu nyuruh aku pake slimut? Kok aneh ya? Jadi meski rada aneh, aku
teriak “AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA…………………………………….!!!!!!!!!!!!!!!!!” mama
sama papa datang kaya tragedi sebelumnya, papa sambil bawa tongkat kayu (dapet
dari mana ya?). “ma… pa… ada setan kaya monyet!” kataku. “haduh ini lagi, tak
pikir apaan!” kata mama “kalo teriak lagi, papa sama mama gak akan kesini!”
kata papa “tapi kalo kamu teriak MALINGGG, ULARRR, ao yang laen papa sama mama
akan dateng! Ngerti!!!” tambah papa. “Pa dapet tongkat ini dari mana?” tanyaku
“lho inikan tongkat pramukamu se?!?” jawab papa. “oh, tapi beneran lo ada
setan!” kataku “udah deh! Dipikir dulu beneran ato enggaknya! Dulu pas kamu
kecil ‘pemberani’ tapi kenapa sekarang ‘PENAKUT’?” kata mama.
Mungkin bener aku
harus mikir dulu. Tapi misalnya aku minta tuker kamar sama adek lagi… nanti
ketemu sama hantu sipit itu! Jadi aku milih tetap dikamar ini. Setelah itu
setiap ada kejadian-kejadian aneh di kamar, suasana nyeremin ya… aku tinggal
tidur aja. Terkadang ada suara tokek, suara jam ‘ding dong… ding dong…’ , suara
anak nangis, suara toktoknya bakso, nasi goreng, tahu campur de el el.
Nah…. Loe percaya gak
sama tragedi ini? (buat yang baca ini). Kalo gue sih….. udah gak peduli. (Ada
yang bilang… kata ‘GUE’ itu gaul, dsb. Kata ‘GUE’ terdengar biasa buat orang
daerah Jakarta. Tapi buat orang semacamku, terdengar tidak biasa. Tidak biasa
bukan berarti aneh lo ya….).
Tapi sampai
sekarangpun aku masih takut tentang hantu itu….. hantu yang sipit. Kalo ama
hantu yang kaya monyet sih… gak terlalu. Saat nulis catatan inipun aku masih
rada-rada takut gitu. Jadi aku taruh Al-Qur’an di sampingku…. Takutnya si hantu
sipit itu gak terima kisah antara aku dan dia mau kumasukin ke blog. Habisnya,
nulisnya juga pas malem-malem.
Pokoknya malam saat si
sipit itu berkunjung ke kamarku adalah malam yang sesuatu……..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar